Sebuah lagu yang berdasarkan para fans garis keras The Strokes merupakan lagu yang menandakan kebangkitan band asal New York setelah tujuh tahun Comedown Machine dirilis. Dan ya, lagu dalam album The New Abnormal ini ternyata sering berseliweran di playlist random saya saat night drive -selain tentu saja lagu kebangsaan Why Are Sunday So Depressing-. Awalnya saya ngga ngeh kalo ini suara Julian Casablancas tapi paham betul ini musik The Strokes. Benar saja, lagu ini langsung nyantol di otak saya dan membuat saya ingin mengulik part demi part liriknya yang memang sungguh brilian.
| from https://deliaf.blog/selfless-actions/ |
Dan ini merupakan interpretasi saya pribadi dimana dalam menyelami sebuah lagu, tiap individu pasti mempunyai permaknaan sendiri-sendiri.
Lagu dibuka dengan sound gitar khas Nick Valensi di lagu-lagu mellow. Nada minor, suara menyayat hati, dan raw! Sejurus kemudian, Julian mulai menghipnotis dengan suara dengan aksen khasnya.
Can the dark side light my way? Oh, yeah, yeah
Lay your hand across my face, yeah, yeah
Time we lost, that's all my fault
Kata-kata pengharapan dari seorang yang sesuai judul lagunya merupakan si pemilik cinta tanpa pamrih. Yep, he would do anything for love. Nukilan: can the dark side light my way? menggambarkan betapa desperate-nya seseorang dalam mencintai. But, its kinda different desperate. It's more about dedication. Disini saya menginterpretasikan ia bertanya pada diri sendiri apakah sisi gelap dapat menerangi jalannya karena mungkin bright side tidak cukup kuat untuk itu. Maka ia butuh segala sisi termasuk sisi gelap untuk menuntun jalannya.
BARINGKAN TANGANMU DI WAJAHKU. Sekali lagi merupakan dedikasi tinggi terhadap cinta. Atau mungkin itu sisi gelapnya? Dengan meletakkan tangan di wajah -dan menutupi mata- bukankah ia hanya akan melihat kegelapan? SOTOY!
Waktu kita hilang. Hmmm, biasanya seorang selfless cenderung seperti ini. Karena tanpa pamrih, ia tidak akan menyalahkan pujaaannya jika ada sesuatu yang hilang termasuk waktu. Ia akan menyalahkan dirinya sendiri, meski itu bukan.
Please don’t be long, 'cause I want you now
I don't have love without you around
Life is too short, but I will live for you
Ajaibnya di lagu ini, kita tidak akan menanti lama verse-verse basi. Kita akan disuguhkan seketika chorus yang ikonik dan WOW, headvoice Julian sungguh mengagumkan. Mungkin bukan yang teristimewa tapi sungguh membekas. Apalagi ketika bait terakhir langsung disambung solo gitar yang, just WOW! Seakan melambangkan: Hei chorus ini kudu kamu ingat!
Sekali lagi, kalimat demi kalimat pada bagian chorus merupakan kalimat pengharapan dari seorang yang sangat menginginkan pujaannya mengisi hidupnya. Juga mungkin terhadap hidup ditandai dengan lirik Life is too short but i will live for you. Hidup ini singkat gaes, tapi kita tentu akan hidup untuk hidup! MENYALAAAA!!!
How did this fit in your story? Yeah-eah
Why’d you let them judge your body? Yeah-eah
I've been waitin' there outside, yeah
Seperti saya sampaikan di awal, lagu ini adalah percakapan dengan diri sendiri. Ia mempertanyakan hal-hal yang seharusnya ia bisa menjawab dengan 'jahat' tapi agaknya ia hanya akan membiarkan itu berlalu tanpa jawaban hingga pertanyaan-pertanyaan tersebut terus saja terngiang di otaknya.
Dan, hei. Sisi dirinya yang lain sedang menunggu di luar. Di luar otaknya yang membiarkan itu berlalu.
Please don't be long, 'cause I want your heart
I don't have fun without your love
Life is too short, but I will live for you
You're mucking off, but I will live for you, my selfless love
Pergantian kata 'love' dengan 'fun' terdengar cukup menyenangkan disini. Sebenarnya artinya sama saja. Kita tidak memiliki kesenangan-kegembiraan tanpa cinta, kita tidak akan punya cinta tanpa balasan cinta dari sang pujaan. Tapi jujur saja, dua baris selanjutnya yang bikin mellow!
Kamu mengotorinya, tapi aku akan hidup untukmu, cinta tanpa pamrihku.
Sounds desperate and deep, huh? And yeah, ternyata aku akan hidup untukmu adalah untuk cinta tanpa pamrihnya. Saya rasa ia menikmati caranya dalam mencinta. Tak peduli dengan apapun, ia berhak mendapatkan kesempatan lagi. Yea, saya akan mencoba lagi!
Bite my tongue and wait my turn
I waited for a century
Waste my breath, no lessons learned
I turn and face the enemy
I'm not scared, just don’t care
I’m not listening, you hear?
He's never dead, but I don’t care
I can't tell you what and where
Yeah-eah
Yeah-eah
Bridge khas The Strokes yang kadang menaruhnya di akhir lagu. Mungkin secara aransemen, mereka ingin mengakhiri dengan menggantung. Atau mungkin mereka sekadar menyampaikan bahwa hal-hal yang ingin sungguh dikatakan akan selalu dibicarakan di belakang, menunggu waktu yang tepat.
Mungkin segala lirik dalam lagu ini cocok untuk seseorang yang sedang jatuh cinta setengah mati dan agak susah meyakinkan pujaan hatinya, hehe. Ya setidaknya mengajarkan bahwa kadang harus bersikeras dalam keyakinan bahwa segala sesuatunya mungkin tidak akan menjadi lebih baik tetapi masih berharap dengan harapan bahwa semuanya akan berhasil pada akhirnya.
C'est la vie!
No comments:
Post a Comment